The Review: My Stupid Boss

mystupidboss

Ini film lucu banget dari awal.

 

Mudah sekali muncul keinginan nonton ‘My Stupid Boss’ hanya dari cuplikannya saja. Ubahan total penampilan fisik Reza Rahardian dan gurauan khas melayu yang sangat familiar membuat saya meluangkan waktu untuk menonton.

Film bercerita tentang Diana yang ‘terdampar’ di Kuala Lumpur dan memutuskan bekerja di salah satu perusahaan di sana. Malaysia Maju Sinar Berjaya, perusahaan pimpinan Bossman yang absurd. Karyawan-karyawannya pun dibuat dengan karakter yang lucu-able walaupun agak sedikit terlalu banyak usaha dibuat lucu. Cerita berpusat ke hubungan antara Diana dan Bossman. Perang mental antara mereka berhasil memunculkan kelucuan-kelucuan yang natural sesuai karakter masing-masing. Sementara karyawan lainnya terkesan menjadi hiasan cerita untuk mengisi gurauan tambahan, walaupun tidak kalah lucu.

Sangat mudah membayangkan kelucuan-kelucuan saat tiap karakter berinteraksi. Tawa penonton sambung menyambung dengan ritme cepat. Gurauan-gurauan formula lama campuran antara rasa Melayu dan sedikit Amerika mengisi hampir tiap adegan. Gurauan yang ‘receh’ tidak terkesan murahan karena ditulis rapi dan matang ala set list stand up comedy. Mulai tengah ke belakang, gurauan mulai terasa repetitif. Ledakan tawa jadi tidak sebesar di setengah pertama film. Kelelahan tertawa dibayar kurang memuaskan di bagian akhir film. Cerita terasa antiklimaks dengan perubahan dua karakter utama yang terlalu cepat. Pun dengan motivasi yang tidak dibangun terlalu kuat di adegan-adegan sebelumnya. Sentimen terhadap Bossman dan Diana terasa kurang mengikat sehingga akhir film tidak semanis harapan.

Segala kekurangan di bagian akhir tertutupi dengan kelucuan yang tidak berhenti sampai adegan terakhir. Selain itu, kualitas akting mumpuni para pemainnya menjadi poin penting, selain penulisan yang matang. ‘My Stupid Boss’ sangat menyenangkan untuk ditonton, apa lagi beramai-ramai. Film komedi terbaik di tahun 2016 sejauh ini.

 

“Ngerti ga ulasan saya? Masa gitu aja ga ngerti. Tempe bener.” – Bossman

The Review: X-Men Apocalypse

apocalypseposter

 

X-Men kembali lagi dengan premis yang begitu grande, seorang mutan yang konon pertama di dunia bangkit kembali untuk menghancurkan dunia. Klise? At first. But not really.

Film diawali cerita singkat asal-usul En Sabah Nur aka Apocalypse. Seorang mutan dari Mesir kuno yang dituhankan rakyatnya, hidup abadi dengan memindahkan alam sadarnya ke tubuh orang lain saat usia mulai senja. Suatu ketika dia tertimbun reruntuhan piramid kemudian hilang.
Garis waktu melompat ke dekade 1980an. Waktu di mana sekolah kusus mutan, Xavier School sudah mulai berjalan. Secara tidak sengaja Apocalypse bangkit, berniat merebut tahta penguasa dunia yang dulu dia miliki dengan bantuan The 4 Horsemen. Kebangkitannya membuat tim X-Men yang sudah bubar dipaksa keadaan untuk bertemu kembali. Adegan silih berganti antara perjalanan tim X-Men yang berkumpul kembali dan perekrutan 4 mutan pembantu Apocalypse. Satu persatu karakter muncul dengan pengenalan yang sangat singkat untuk karakter baru. Setiap karakter punya perbedaan yang jelas dengan kekuatan masing-masing yang ikonik. Sayangnya tidak dibarengi dengan motivasi yang kuat kenapa tiap karakter mau bergabung dengan kubunya masing-masing. Walaupun begitu, saya suka dengan karakter Apocalypse yang punya kekuatan sangat besar tapi terkesan gegabah. Karakter yang sangat manusiawi walaupun dia bukan juga sih.

Sekitar 30 menit terakhir, panggung disediakan untuk pertarungan antara dua kubu. Adegan tidak terlalu intens seperti ‘Civil War’ tapi saya sangat menikmati. Walaupun penggambaran kekuatan Apocalypse dan Magneto terasa kurang wah. Tidak terlalu terlihat seperti kiamat.

What’s the best thing in this movie? The soundtrack. The 80s pop music here and there is pure awesomeness.

Kalau X-Men: Apocalypse dibilang film Marvel, tidak sepenuhnya salah. Marvel terlibat dalam pembuatannya tapi terlihat tidak terlalu dalam, terutama pada penulisan cerita. Film-film Marvel Universe punya cara penuturan yang berbeda dengan film-film X-Men Universe. Mungkin sebagian orang tidak suka salah satunya.
PS: Gosip Wolverine muncul memang benar adanya, walaupun cuma sebentar dan kurang penting. Bebas dari kandang, bunuh orang-orang jahat, dielus-elus cewek, lalu kabur. Selesai.

The Review: Eye In The Sky

eye-in-the-sky-poster-lg - Copy

Baru saja pulang dari bioskop, nonton film yang buat saya irit nafas sepanjang pertunjukan. Beberapa hari lalu baca sinopsisnya dan ga perlu pikir panjang untuk meluangkan waktu pergi ke bioskop.

Pasukan militer AS, Inggris, dan Kenya bertugas untuk menangkap kelompok teroris di Naerobi, Kenya. Sesuai dengan judulnya, mereka menggunakan drone untuk mengintai dan menyerang target. Super canggih. Pun drone-nya dikendalikan dari AS. Irit ongkos.

Operasi yang bertujuan untuk menangkap target berubah menjadi pelumpuhan (baca: pembunuhan). Saat drone canggih itu siap untuk menembakan peluru, tiba-tiba datang seorang anak perempuan ke area target tembakan. Dia menyusun roti buatan ibunya di atas meja, berharap cepat habis dibeli. Sepanjang film konflik berfokus pada peraduan nasib si anak perempuan itu. Menjawab pertanyaan bisa tidaknya melumpuhkan teroris tanpa melukai si anak kecil itu, atau bagaimana jika korbankan satu nyawa untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa. Klasik. Hampir tidak ada konflik lain yang dibenamkan di dalam alurnya. Ada pun cuma Letnan Benson (Alan Rickman) salah beliin mainan anaknya. Kurang penting untuk dimasukan ke dalam cerita. Jadi hanya semacam lampu kecil untuk film yang punya tone yang cukup gelap.

Ada banyak karakter yang berperan. Mulai dari tentara bawahan sampai Perdana Menteri. Walaupun begitu, tidak terasa terlalu ramai karena tiap karakter punya porsi yang pas dan relevan dengan cerita. Paling terkesan dengan penampilan Helen Mirren sebagai Colonel Powell. I’m impressed since she woke up from the bed.

Cerita yang mengalir apik sampai akhir dan kualitas akting tiap aktor yang di atas rata-rata menjadi paket lengkap film militer yang sederhana ini. Meskipun begitu, tetap brutal seperti film-film perang/militer lain. Hanya saja tidak dengan obral darah, tapi menyekik emosi penonton sampai akhir. Saya sempat tertegun sebentar saat credit title mulai berputar. Baper.

The Review: 10 Cloverfield Lane

10cl_poster

Filmnya sangat straight forward dalam penuturan. Serupa dengan Cloverfield, film pendahulunya yang berperan sebagai pembentuk kerangka semesta film ini. 10 Cloverfield Lane tidak bisa disebut sekuel karena tidak ada garis cerita langsung dari pendahulunya, bersinggungan sama karakternya pun tidak. Namun masih ada benang merah yang sama, menceritakan rakyat jelata ketika alien menginvasi bumi. Saya rasa cara ini akan terus dipakai untuk film-film Cloverfield yang lain. Cara yang membuat Colverfield unik dibandingkan film alienisasi bumi lainnya.

Cerita diawali saat tengah hari, ketika Michelle (Mary Elizabeth Winstead) berkemas terburu-buru untuk meninggalkan rumah. Bukan karena invasi alien, tapi karena pertengkaran dengan tunangannya. Dia mengemudi mobil sampai malam entah ke mana. Di tengah jalan sepi tiba-tiba mobilnya terguling tak karuan. Di dalam, badan Michelle terkoyak sampai pingsan. Terbangun dari pingsan di dalam sebuah bungker. Michelle dipertemukan dengan Howard, orang yang ‘menyelamatkannya’ sekaligus si pemilik Bungker dan Emmet, kuli bangunan yang dulu membangun bungker. Dari awal karakter Howard diperkenalkan, sudah terlihat penuh misteri dan memiliki konflik masa lalu yang rumit. Sementara Emmet sebagai penyeimbang supaya film ini tidak terlalu gelap. Sosok yang easygoing dan naif. Konflik terjadi antara Michelle yang begitu kokoh mempertahankan keinginannya untuk keluar dari bungker dan Howard yang tidak pernah lelah melarang dengan alasan yang sulit dipercaya Michelle. Alur cerita berjalan cenderung datar tapi tetap banyak pendalaman karakter yang seimbang di antara tiga karakter tersebut. Tempo mulai naik saat rahasia besar Howard terungkap dan membahayakan nyawa lainnya. Michelle yang digambarkan sangat cerdik, tidak perlu waktu panjang untuk memikirkan rencana melarikan diri. Perjuangan yang cukup banyak melibatkan darah dan api akhirnya berhasil, sayangnya hanya sendiri, Michelle. Di dunia luar, Michelle bertemu dengan beberapa alien yang sweeping memusnahkan manusia. Satu hal yang paling membuat mengernyitkan dahi, Michelle dengan begitu mudah mengalahkan alien sebesar rumah mewah dan bisa terbang. Terkesan terburu-buru diselesaikan. I know she’s smart, the character built along the movie. But really? That easy?

Film yang cukup padat dan efektif, sepanjang film saya tidak lihat ada adegan yang sia-sia. Agak melelahkan nontonnya, namun tidak masalah karena tiga karakter yang distinctive dimainkan dengan sangat baik.

10 Cloverfield Lane jadi tontonan yang segar. Mulai bosan dengan film alienisasi bumi dari sudut pandang militer. Dunia Cloverfield semacam jadi taman bermain JJ Abrams dan tim Bad Robot-nya kalau mau membuat sesuatu yang nyeleneh. Saya sama sekali tidak keberatan kalau mereka terus main di situ.

Oiya ini spoiler review ya. Lupa.

Ya sudah.